My Workspace so Simple

Setelah empat tahun lamanya, Allah mengingatkan saya akan keberadaan blog ini. Salah satunya lewat ajakan teman untuk ikut meramaikan arisan blog. Maasyaa Allah, kreatif ya mereka :')

Padahal, dalam kurun waktu selama itu, saya sudah pindah ke sana-ke sini. Mulai dari pengalaman rotasi eselon III, lanjut tugas belajar satu setengah tahun, balik ngantor lagi, hingga menghadapi kenyataan untuk bermigrasi ke tempat baru. Dan...disinilah saya. Mulai mengisi kembali blog yang udah lama ga dikunjungi. Pantes ya pengikutnya ga nambah-nambah..hehe

Di tempat yang baru ini, ada hal baru (juga) yang bikin saya excited. Yap. Meja kerja dengan kubikel. Meskipun banyak yang ga gitu suka dengan 'pengkotak-kotakan' yang diciptakan ala si kubikel ini, saya cenderung yang seneng-seneng aja hehe. Pasalnya, privasi lebih terjaga dan saya tipikal yang senang memiliki waktu sendiri. Orang bilangnya introvert kali ya. Hal ini yang bikin saya jadi lebih konsentrasi dalam bekerja.

Balik lagi tentang kubikel, satu hal saja yang kurang oke dari kubikel ini menurut saya adalah menciptakan jarak pandang yang sempit. Padahal, layar kerja pada komputer seringkali bikin mata jenuh. Terlebih komputer yang saya miliki alhamdulillah besaaar, sehingga lebih cepat bikin mata lelah. Tapi kata Mbak Irma (lirik rekan kerja di samping) "jangan sedih". Cukup lemparkan pandangan mata ke luar jendela.

Bagimanapun, saya cenderung yang gak punya banyak tuntutan utk yang namanya workspace yaa.. Soalnya saya tahu hal apa aja yang bisa menaikkan mood saya saat bekerja. Salah satunya melalui benda bernama headset. Maka jangan heran kalo sering lihat saya menggunakan headset saat bekerja.

Yang didengerin apa? Percaya ga percaya, saya masih bisa bekerja sambil mendengarkan kajian a.k.a. ceramah. Tapi kalo udah mulai ganggu konsentrasi, kajiannya distop dulu, ganti dengan yang gak perlu disimak semisal nasyid dan teman-temannya.

So, meja kerja saya standar-standar aja. Asalkan ada ATK yang memadai dan headset, amanlah sudah. Sebab hal yang paling bisa bikin saya konsentrasi lama di depan komputer (baca: bekerja) adalah memulai hari dengan mendekatkan diri sama Allah.

Caranya banyak ya, mulai dari berdoa dulu sebelum berangkat kantor "bismillahi tawakaltu 'alallah laa haula wa laa quwwata illa billah" sampe memulai pagi dengan sholat dhuha atau tilawah. Boleh dicoba ya kakak, insya Allah hari itu jadi makin semangat. Yeayy.

Intinya workspace ga gitu ngaruh dengan semangat kerja saya, asal rutinitas harian pagi kudu dijalanin sebelum kerja.  Sarapan untuk tubuh dan sarapan untuk hati.







10 celoteh:

  1. *ngumpet di bawah meja*
    Gue dengerinnya lagu-lagu :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan tetiba inget mbak amel open request lagu2 jadul buat seruangan, #gangguu.. Haha

      Yg penting dhuha nya jgn lupa yaa *tetep

      Delete
  2. kayanya ada yg janji bagi sesuatu.. *uhukkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Murottal yaa.. Lupa terus sih. Senin ingetin ya mbak

      Delete
  3. *ngumpet juga di bawah meja*
    *eh ga bisa, gak muat, banyak arsip keleleran*
    Gue dengerin dan liatnya wanita wanita korea :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ganti mandanginnya foto istri sm anakmu aja mas. Sambil didoain.

      Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota'ayun waj'alna Lil muttaqiina imaama.

      Supaya yg jd penyejuk matanya cuma keluarga, keren ih >.<

      Delete
  4. Ah sarapan hati. Love the words!
    Terima kasih sudah mengingatkan :)

    ReplyDelete
  5. aku takut mau komen, mba... aku merasa hina, seneng dengerin lagu barat, jauh dari ceramah, apalagi dhuha hahahahaha....

    ReplyDelete
  6. Ga masalah ukh, Ramadhan besok aku ajak ikut tadarus sama kajian :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...