Showing posts with label catatanku. Show all posts
Showing posts with label catatanku. Show all posts

Rumah Spesial




Inginkah kalian di dunia ini memiliki sebuah rumah?
Jika kita bicara tentang rumah, terlebih kota Jakarta yang apa-apa mahal, mestilah tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk memperolehnya, kecuali dengan berhutang, kredit dengan bunga yang tidak bisa dibilang sedikit, pinjam tetangga kanan-kiri, depan-belakang, dan lain sebagainya. Tentu lain ceritanya bagi mereka yang beruntung bisa memilikinya secara gratisan karena warisan orang tua, hehe. 

Padahal, bagi mereka yang mengahabiskan waktunya jauh lebih banyak di luar rumah karena tuntutan pekerjaan, berapa jam sih yang secara rill dirasakan penghuni rumah untuk menikmati hasil jerih payahnya itu? Tak jarang kan rumah cuma sebagai tempat untuk tidur saja? Sesaat sekali, yang dirasa pun hanya beberapa saat sebelum terlelap dan esok harinya saat terbangun. Itupun jika Allah masih mengizinkan kita hidup kembali. Mungkin ini juga sebabnya setelah bangun tidur kita disunnahkan untuk berdoa yang artinya:

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan kepadanya kami akan kembali"

Kembali ke soal rumah, jika demikian, jika boleh buat hitung-hitungan secara asal, bisa kita peroleh rumus sebagai berikut:

Rumah Sederhana setara dengan :
*Cicilan utang sejumlah hampir separuh gaji dikalikan belas hingga puluhan tahun, plus
*Kerja hampir sepenuh waktu (agar bisa bayar cicilan rumah tadi)

NB: Dinikmati saat weekend saja bonus kesempatan menikmatinya sesaat sebelum tidur

Hwaaaaa.... Gak sebanding banget ini mah namanya.
Nah, jika sedemikian besarnya usaha yang kita lakukan untuk bisa memiliki rumah sederhana di dunia, dengan pertimbangan ya itu tadi, sesaaat sekali bisa menikmatinya. Maka tidakkah kita tergugah untuk memperoleh rumah spesial yang satu ini?

Jadi, begini.... Allah swt menjanjikan akan membangunkan untuk kita sebuah rumah di syurga. Kalian dengar? Allah subhanahu wa ta'ala menjanjikan sebuah rumah bagi kita di syurga. Jelas rumah ini bukan sembarang rumah, rumah ini spesial luar biasa. Rumah terindah, terbaik, ternyaman, yang mungkin pernah kita bayangkan.



Sebab, rumah ini Allah yang membangunkan.
Allah, Tuhan Pemelihara langit dan bumi, Robb yang menciptakan segala macam keindahan alam yang menakjubkan di dunia ini, berjanji akan membangunkan untuk kita sebuah rumah di syurga.  Allahu Akbar. *.*

Jangan tanya luas dan bagusnya rumah yang Allah bangunkan buat kita, jangan tanya nyaman dan sejuknya, indah dan membahagiakannya.. Sebab ini semua Allah yang menyiapkan, bahan bakunya, propertinya, halamannya, pagarnya, kolamnya, huaa subhanallah.  Barakallah..

Tapi jelas ini semua tidak gratis, di dunia saja rumah sederhana demikian mahalnya, tapi ini tidak demikian. Ada hal sederhana yang bisa kita usahakan. Demi Allah sederhana sekali, hanya perlu kesungguhan kita, konsistensi dan baik sangka dalam menjalankan amalan yang satu ini. Apakah itu? Kalian siap mendengar penawaran ini?
Jeng.. jeng.....

Cukup dengan mengerjakan sholat sunnah rawatib 12 rakaat setiap harinya.

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:  Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Subhanallah, ini jelas hitung-hitungan yang sangat menguntungkan, tidak seperti di dunia yang penuh kapitalisme, hitung-hitungan manusia banyak sekali yang dirasa tidak adil. Untuk yang satu ini berbeda, sebab ini adalah tawaran dari Allah, yang disampaikan melalui lisan Rasulullah saw.

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

Jika demikian tunggu apalagi, kawan..
Segera ambil penawaran menarik ini. Mulai sekarang jangan pernah tinggalkan 12 rakaat rawatib setiap harinya, yakni :
  1. Dua rakaat sebelum subuh (yang jelas lebih baik daripada dunia dan seisinya)
  2. Empat rakaat sebelum zuhur
  3. Dua rakaat setelah zuhur
  4. Dua rakaat setelah maghrib, dan
  5. Dua rakaat setelah isya
Jika muncul rasa malas itu, ingatlah rumah spesial di syurga yang Allah akan bangunkan bagi kita.. Sungguh mahal dan tak sebandingnya rumah di dunia yang kita usahakan dengan kerja keras dan pengorbanan, tapi hanya bisa dirasakan sesaat sekali. Padahal rumah di syurga jelas lebih berharga dan indah bukan? Juga lebih kekal dan tak berkesudahan.
Karena Maha Pemurahnya Allah, cukup hal sederhana yang perlu kita lakukan untuk rumah spesial kita di syurga..
12 rakaat sunnah rawatib..

Kalian percaya dengan hari berpulang bukan? Kelak kita akan kembali kesana, sungguh..
kampung akhirat. Jika tak mampu membeli rumah sederhana di dunia fana ini, ada rumah spesial di syurga yang menanti untuk kita tempati, kawan.. Mari mulai sekarang laksanakan dengan penuh kesyukuran dan keyakinan. 

Semoga Allah menggerakkan hati kita, untuk selalu berikhtiar demi kebahagiaan yang sesungguhnya, di kampung halaman kita nanti.
Akhirat!

Sungguh, Bahagia itu Sederhana



Setiap kita ingin selalu merasa bahagia.
Bahagia, yang hanya dapat dirasa oleh hati, sayangnya tak selalu bisa membersamai.
Padahal, bahagia itu sederhana sekali.


Tak jarang ia hadir dalam senyum dan sapa ramah sederhana, 
wajah-wajah ceria, serta sambutan hangat, 
yang sering kali luput kita rasa,
oleh karena memaknai hanya sebatas usaha "basa-basi"


Bukan, ini jelas bukanlah masalah kondisi di luar kita. 
Ini hanya perkara salah memaknai rasa.


Sungguh, terkadang bahagia sulit hadir karena kita yang tak hendak menyambutnya. 
Menutup pintu hati terlalu rapat, untuk sekedar menghargai.
Atau berusaha menghadirkan baik sangka yang hanya setengah hati.


Padahal sungguh, bahagia itu sederhana sekali,
Ia hanya masalah persepsi.
Sangkaan baik kita, kepada Robbul Izzati,
atas hidup yang kita jalani,
dan orang-orang yang membersamai kita.


Belumkah kau temukan ia?
Cobalah kau cari lebih teliti
Barang kali ia hanya bersembunyi dalam khusyuk sholatmu, 
dalam doa-doa tulusmu, 
dalam sujud-sujud panjangmu, 
dalam ikhtiarmu,
dalam tawamu,
atau bahkan tangismu


Jangan salah kawan, 
barangkali ia hanya ingin kita temukan..


ya, 
dalam iman di hatimu..


=00=
Percaya, Syukur dan Berbahagialah :)

Sore itu di angkutan kota




Pada suatu masa,
ibu pernah bercerita padaku tentang arti cinta
Bahwa ia hadir bukan karena keindahan rupa, ia hadir bukan karena manisnya kata yang hanya mengeruhkan hati.
Ia hadir karena kesungguhan cinta Robb Nya.

ah, ini membuatku teringat pada percakapan di kala itu

Sore itu, dalam angkutan umum yang penuh sesak aku membersamai seorang yang kuhormati. Entah bagaimana akhirnya percakapan kami mengarah pada tema di atas.
Sosok di sampingku ini, semenjak mengenalnya ia seringkali mengajarkanku arti sebenarnya tentang cinta.
Ia, tidak melulu pada hubungan dua orang yang saling mengasihi. Terlebih hubungan yang belum diikatkan tali suci, sehingga seringkali syaithan  ikut bermain2 dalam gejolak rasa yang ada diantara keduanya.


"Cinta itu, akan hadir dengan sendirinya, dek.." tegasnya

"Eh?" tanyaku

"Bila telah menikah, cinta itu akan hadir dengan sendirinya" ia mengulangi

Dalam hati, aku masih merasa sangsi atas apa yang diucapkannya.

"Dulu mbak juga sempat merasa gak yakin, pernah ada masanya mbak bertanya pada diri, sudahkah cinta itu hadir?"
Tapi Allah Maha Mengetahui dek, Ia maha Berkuasa."  Ia tersenyum mengambil jeda.

"Sepanjang perjalanan pernikahan kami mbak mengambil kesimpulan bahwa Allah akan membuat pandangan antar kedua orang yang mencinta -suami-istri- mampu memandang keindahan, keunikan pasangannya yang tidak dapat dilihat oleh orang lain" lanjutnya

"Maksud mbak?" aku tak mengerti

Ia kembali tersenyum, lalu melanjutkan,

"Dulu mbak sering bertanya, kenapa si A yang begitu tampan bisa mempertahankan pernikahnnya dengan si B yang sama sekali tidak cantik, mengapa si C yang demikian pintar ternyata sangat mencintai istrinya yang kurang dalam hal akademik. Semua itu, membawa mbak pada satu kesimpulan, bahwa Allah lah yang mengatur segala sesuatunya dengan sangat baik, sehingga setiap pasangan mampu melihat kelebihan pasangannya meski terkadang hal itu tidak dapat dinalar oleh orang2 di sekitarnya."

Aku pun tersenyum mengiyakan pendapatnya.

"Allah akan meyakinkan kita, dalam perjalanan hidup ini, bahwa orang terkasih yang hadir dalam hidup kita memang memilki kelemahan, sebagaimana tak sempurnanya manusia biasa krn ia bukan malaikat, tapi sungguh, kelemahan2 tsb mampu tertutupi dengan kelebihannya yang mungkin di mata orang tak seberapa. Akan tetapi saat yang merasakan adalah pasangannya, maka Allah akan mengokohkan keyakinan kita, bahwa kelebihan inilah yang sesungguhnya dibutuhkan dalam menjalani kisah kehidupan rumah tangga untuk seterusnya." 

Ah, Subhanallah berat ya..hehe

Kecintaan kepada Allah, membuat sesorang mampu memposisikan dirinya dengan baik.
Ia akan berusaha menjadi suami terbaik, istri terbaik, dalam kondisi apapun.
Bukankah Ketika seseorang mensyukuri segala hal yang hadir, maka Allah akan menitipkan cinta di sana..
Sebab sejak awal ia telah mendahului tiap laku dengan kecintaan pada Robb nya, 
Ia mulai segala sesuatu dengan hal yang baik, maka insya Allah akan berakhir baik pula.
Tugasnya hanya merawat cinta, menumbuh kembangkannya hingga menjadi bunga2 indah di syurga ^^

*merekamkisahyanghampirterlupa
Jakarta, pinggir sungai ciliwung

Mengokohkan Keyakinan


Jalan itu tak selalu lurus bukan?
Tak jarang ia berkelok, landai, menanjak, atau menurun, curam.

Jalan pun tak selalu mulus, sungguh!
Tak jarang ada aral di sana, kerikil dalam serpih, bahkan batu besar, menghadang.

Toh ia kelak menyampaikan pula kita kesana, tujuan kita, yang tak mungkin kita berhenti hanya karna sebersit pikiran yang merendahkan, menjatuhkan mental, terlebih keyakinan.

Bukan! Ini jelas bukan soal mampu tak mampu.
Ini soal kemauan, keyakinan, kekuatan pikiran.

Lagi-lagi bukan!
Ini pun bukan soal memaknai kelemahan diri, hanya sekedar kesungguhan hati, kekuatan iman.

Maka lewati saja skenario hidup dengan ikhtiar terbaik.
Yakini saja bahwa kini Dia tengah menunjukkan jalan-jalan terbaik Nya.
Jalan-jalan yang mendewasakan, jalan yang mencerahkan, jalan-jalan keutamaan..

Kelak tak perlu terkejut jikalau jalan ini yang mengantarkan kita pada rencana terindah Nya
yang mengantarkan kita pada kesyukuran mendalam
yang mengantarkan kita pada pada keyakinan :



"Duhai Robbi, sungguh inilah jalan terbaik.."


Jumat,  tengah malam
   di pinggir kota Jakarta

Rapel oh Rapel


Berbicara tentang rapel dan gapok yang tak kunjung turun..Seringkali kita terlupa, bahwa Allah mengabulkan doa hambaNya dengan 3 cara:
  1. Dikabulkan dengan segera
  2. Ditunda hingga  waktu yang terbaik menurutNya
  3.  Dihindarkan dari keburukan
Untuk masalah kita mungkin jawabannya Allah sedang menunggu bersama kita, memberikan di saat yang tepat, bukankah seluruh ikhtiar telah kita lakukan dengan sebaik-baiknya?

Maka yakinlah Allah memenuhi hak kita di saat kita betul-betul siap menerimanya. Bukankah Dia yang lebih mengetahui apa apa yang terbaik bagi kita?

Mungkin kita saat ini sama-sama merasakan betapa sulitnya keuangan kita, sementara kebutuhan hidup yang kian banyak, tapi bukankah kita tidak sendiri? Ada temen-teman lain yang juga merasakan hal serupa.
Kalian percaya bukan, bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami? 

Sulit memang, tapi oleh karena ujian ini, bukankah kita merasakan lembutnya uluran tangan sahabat, saat kita membutuhkan bantuan? Maka Allah sedang mengajarkan kepada kita arti persahabatan.  

Ketika kita (mungkin) masih “meminta” bantuan kedua orangtua kita, bukankah itu artinya Allah sedang mengajarkan kepada kita, “jangan pernah  melupakan jasa kedua orangtuamu..” Agar kelak, ketika kita sudah “mampu” , kita tidak terlupa bahwa ada hak orangtua kita disana, bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga penghargaan dan kasih sayang.

Tak jarang kita menyaksikan kegigihan teman yang melakukan “penghematan ketat” demi menjaga izzah (harga diri) terhadap orang-orang disekitarnya, maka Allah mengajarkan kepada kita arti empati dan simpati.

Sungguh, Karena selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami.. Dan Allah selalu mempunyai cara terbaik untuk menyampaikan kasih sayangNya.. 

Maka, meski kita tidak tahu, apakah ini berkah atau musibah, katakanlah dengan penuh keyakinan bahwa:
 “Aku hanya akan bersangka baik pada Allah”
 
Sahabat,
mungkin upaya kita kali ini ialah mencoba lebih jujur pada diri, pernahkah kita bertanya dari lubuk hati terdalam, mengapa ini terjadi pada saya? Mengapa bukan di unit organisasi lain, mengapa harus saya dan teman2 yang mengalaminya? Mengapa kita begitu sulit, sementara disana begitu mudah?

Menunjuk hidung orang lain jelas lebih mudah, kawan.. Tapi tidak ada salahnya bukan, berkaca pada diri sendiri, adakah kita melupakan sesuatu?

Adakah hati orangtua kita terluka atas sikap-sikap kita selama ini?

Adakah  saudara kita yang tersakiti hatinya karena ucapan dan candaan yang tidak pada tempatnya?
 
Adakah ucapan sia2 yang selama ini selalu menghiasi bibir kita?
Adakah ibadah2 kita yang jauh dari sempurna?

Teruslah bertanya, maka kita kelak akan menemukan jawabannya. Mungkin kita bertanya, Apakah ada hubungannya semua itu dengan masalah kita? Jawabnya, ya.

Bukankah ridho Allah berada pada ridho kedua orangtua, dan murkaNya pun terletak pada kemurkaan keduanya?

Dan bukankah hati yang terzholimi memiliki kekuatan yang luar biasa, hingga Allah menjanjikan pengabulan doa orang yang terzholimi. Jika kita kini merasa berada pada posisi ini, berdoalah sebanyak-banyaknya, dengan kesungguhan.

Pun dengan ibadah kita selama ini, jika kita selama ini menyepelekan kewajiban kita terhadapNya, tidakkah kita malu untuk meminta disegerakannya hak kita?

Maka apapun yang menimpa, maka muhasabah adalah jalan yang tepat.
Ketika orang lain mengatakan sabar, ingin rasanya kita mengatakan, apakah kesabaranmu benar2 mengalahkan kesabaranku? Rasa2nya sudah habis kesabaran kita, tapi jangan lupa kawan, rizqi kita jika Allah hendak menahannya, maka tak ada seorangpun yang mampu melancarkannya jika tanpa kehendakNya.. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda;

 “...Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis.
Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan Allah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu.
Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya.
Semua aktivitasmu kerjakanlah dengan keyakinan dan keikhlasan.
Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan".
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi].

Maka buang rasa cemas itu, sebab selalu ada kemudahan setelah kesulitan.. Sebab Allah melihat usaha kita, Dia melihat kerja kerja kita, ia melihat kegelisahan kita, bahkan air mata kita selama ini. Dia tahu, Dia Maha Mengetahui..
Dan katakanlah, bekerjalah kamu maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui yang ghaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
(QS. At Tawbah: 105)

Saya percaya akan janjiNya. Kalian juga percaya bukan?;)

Semoga setelah ini kita akan turut senang saat teman yang lain mendapat kebahagiaan, pun kita turut menjaga perasaan teman2 lain yang sedang dalam kesempitan. Hingga kata solid itu benar2 wujud dalam tubuh ini. Sehingga segala prasangka berganti menjadi rasa percaya, ya,, hingga prasangka menjadi rasa percaya..

Tidak Sama Tawakkal dengan Pasrah

Akhir-akhir ini banyak sekali yang mensinonimkan antara sikap tawakkal dengan pasrah. Sungguh ini merupakan hal yang keliru. Jika pasrah yang dimaksud ialah keihkhlasan menerima ketentuan Allah tanpa diawali ikhtiar sempurna, maka ia bukanlah tawakkal. Karena tawakkal harus dimulai dengan ikhtiar, ada usaha disana, ada mujahadah, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda :

Ikatlah (untamu) dan bertawakallah kepada Allah.


Maka ikhtiar adalah keharusan. Ketika kita sudah berikhtiar, melakukan suatu pekerjaan secara optimal sesuai dengan kemampuan kita, maka setelahnya serahkanlah hasil kerja kita tersebut kepada Allah swt (tawakal'alallah). Kemudian barulah kita pasrah.  


Sebab, sesungguhnya Pasrah adalah puncak dari semua usaha yang kita lakukan itu. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar (berusaha), sesudah itu tawakal (menyerahkan diri), sesudah itu barulah pasrah. Janganlah kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu tanpa ikhtiar dan tawakal.


Rasulullah saw bersabda:
Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya..


Yuk, Mari kita bertawakkal dengan cara yang benar, yakni tawakkal yang diawali dengan ikhtiar dan diakhiri dengan pasrah dan qana'ah (menerima ketentuan Allah swt) Lalu iringilah semua tahap itu dengan doa. Sebagaimana firman Allah swt:


''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.'' (QS 2:186).


Wallahu'alam

Salah Kaprah Karena Diterima Umum

Hai sobat sering denger yang kayak gini?

“Ih, jangan pegang sembarangan, ya! Kita tuh bukan muhrim!!”

atau mungkin obrolan macam ini..

“mau ke mana, Bu?” tanya seorang anak,

“Ibu mau silaturahmi ke rumah Bu Tejo”, jawab sang ibu

atau.. yang lumrah diucapin para tetangga deket rumah saat lebaran atau idul fitri,

Minal aidin wal faidzin, ye.. Mohon maaf lahir batin..”, kata si A

“sama-sama”, jawab si B

Hedeeeeeeh...-.-“

............................................................................................
Ups, emang apa yang salah dengan ketiga wacana di atas??
ketiga contoh di atas pastinya sudah sering kita dengar, diyakini dan dianggap benar, hingga akhirnya  menjadi sesuatu yang lazim. Padahal ketiga kata dan kalimat di atas sesungguhnya telah salah dalam pemahaman makna hingga ia pun salah dalam penggunaannya.
Oke, kita bahas satu per satu ya...

Perasaanmu bukanlah Tuhanmu!



Hati, dipenuhi berbagai rasa. Terbentuklah perasaan yang beragam rupa warnanya.
Setiap warna ingin mendominasi warna lainnya, hingga yang terjadi adalah pergantian warna, ia muncul-lenyap, timbul-hilang.

Sungguh, hanya Allah Sang Pemilik hati manusia.

Qolbu, yang tersimpan dalam tiap dada manusia memiliki kecenderungan untuk selalu berubah.

Kadang ia diliputi iman, membahana, meledak-ledak, hingga tiap sujud panjang menjadi begitu berkesan, tiap ucapan dipenuhi doa, tiap langkah penuh upaya mengharap ridho-Nya. Takut ia, kalau-kalau Allah akan menjauh darinya, takut ia tak ada cinta dari Robb nya, hingga ia terus berupaya. Tak lelah, tak goyah.

Namun tak jarang ia dipenuhi asa selain untuk-Nya. Harapan-harapan dunia, cita, tingkah laku yang terlupa, bahwa diri ini kan berpulang pada-Nya. Lupa akan pengawasan-Nya, lupa pada tempat kembali,lupa akan pengadilan-Nya. Lupa bahwa diri tak lebih hanya seorang mahluk ciptaan-Nya, yang sudah semestinya mengikuti jalan yang telah ditetapkan Robbnya, karena hidup ada aturannya, tak bisa sembarang, tak bisa selalu mengikuti perasaan, tak bisa, sebab..

Perasaanmu bukanlah Tuhanmu!

izinkan sy menangis


ini bukan tangis yg meraung-raung, bukan pula tangis yg tersedu sedan..
ini tentang tangisan jiwa. jiwa yg pd hakikatny sllu btnya pd dri,
wahai diri yg lalai!
adakah nikmat Tuhanmu kau syukuri?
adakah cobaan dr Tuhanmu kau tafakkuri?
padahal Allah sllu ad saat engkau buthkan,
padahal Dia sllu mjwb doa-doa yg kau panjatkan,
padahal ksh syng org2 dsktrmu mrpkn refleksi cinta kasihNya..

duhai Allah..

Tayangan Televisi Elemen Perusak Generasi

Sabtu, 19 Januari 2009

Di tengah masa krisis moralitas dan mentalitas saat ini, tayangan televisi merupakan media yang diharapkan dapat memberi ‘nutrisi bahkan obat’ bagi rusaknya moralitas bangsa. Akan tetapi, justru media inilah yang menjadi ‘donatur’ terbesar dan penanggungjawab utama bagi semakin bobroknya mentalitas dan moralitas bangsa. Bahkan tidak salah bila dikatakan bahwa media televisi adalah racun yang siap ‘membunuh’ karakter bangsa, yang dari waktu ke waktu tidak lagi mengenal jati dirinya.