Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

Mengokohkan Keyakinan


Jalan itu tak selalu lurus bukan?
Tak jarang ia berkelok, landai, menanjak, atau menurun, curam.

Jalan pun tak selalu mulus, sungguh!
Tak jarang ada aral di sana, kerikil dalam serpih, bahkan batu besar, menghadang.

Toh ia kelak menyampaikan pula kita kesana, tujuan kita, yang tak mungkin kita berhenti hanya karna sebersit pikiran yang merendahkan, menjatuhkan mental, terlebih keyakinan.

Bukan! Ini jelas bukan soal mampu tak mampu.
Ini soal kemauan, keyakinan, kekuatan pikiran.

Lagi-lagi bukan!
Ini pun bukan soal memaknai kelemahan diri, hanya sekedar kesungguhan hati, kekuatan iman.

Maka lewati saja skenario hidup dengan ikhtiar terbaik.
Yakini saja bahwa kini Dia tengah menunjukkan jalan-jalan terbaik Nya.
Jalan-jalan yang mendewasakan, jalan yang mencerahkan, jalan-jalan keutamaan..

Kelak tak perlu terkejut jikalau jalan ini yang mengantarkan kita pada rencana terindah Nya
yang mengantarkan kita pada kesyukuran mendalam
yang mengantarkan kita pada pada keyakinan :



"Duhai Robbi, sungguh inilah jalan terbaik.."


Jumat,  tengah malam
   di pinggir kota Jakarta

Kotaku Mengajarkanku

Siapa yang tak mengenal  kota yang satu ini?
Ia megah, maka tak terbilang jumlah mereka yang hendak mencari penghidupan yang lebih baik disini.
Ia angkuh, maka jadilah ia poros segala aktivitas dan kehidupan dengan luas wilayahnya yang tidak seberapa.
Coba kau tanya pada mereka tentang kota ini,
Maka mereka akan menjawab, ia kota bisnis, ia kota pemerintahan, ia kota metropolitan.

Coba sekali lagi kau tanyakan pada mereka tentang kota ini,
Maka kini kan kau temukan jawaban penuh cibiran,
ialah biangnya polusi dan macet,
ia kotanya para koruptor,
ia gudangnya kriminalitas,
ia juga syurganya kaum hedon.

Perasaanmu bukanlah Tuhanmu!



Hati, dipenuhi berbagai rasa. Terbentuklah perasaan yang beragam rupa warnanya.
Setiap warna ingin mendominasi warna lainnya, hingga yang terjadi adalah pergantian warna, ia muncul-lenyap, timbul-hilang.

Sungguh, hanya Allah Sang Pemilik hati manusia.

Qolbu, yang tersimpan dalam tiap dada manusia memiliki kecenderungan untuk selalu berubah.

Kadang ia diliputi iman, membahana, meledak-ledak, hingga tiap sujud panjang menjadi begitu berkesan, tiap ucapan dipenuhi doa, tiap langkah penuh upaya mengharap ridho-Nya. Takut ia, kalau-kalau Allah akan menjauh darinya, takut ia tak ada cinta dari Robb nya, hingga ia terus berupaya. Tak lelah, tak goyah.

Namun tak jarang ia dipenuhi asa selain untuk-Nya. Harapan-harapan dunia, cita, tingkah laku yang terlupa, bahwa diri ini kan berpulang pada-Nya. Lupa akan pengawasan-Nya, lupa pada tempat kembali,lupa akan pengadilan-Nya. Lupa bahwa diri tak lebih hanya seorang mahluk ciptaan-Nya, yang sudah semestinya mengikuti jalan yang telah ditetapkan Robbnya, karena hidup ada aturannya, tak bisa sembarang, tak bisa selalu mengikuti perasaan, tak bisa, sebab..

Perasaanmu bukanlah Tuhanmu!

izinkan sy menangis


ini bukan tangis yg meraung-raung, bukan pula tangis yg tersedu sedan..
ini tentang tangisan jiwa. jiwa yg pd hakikatny sllu btnya pd dri,
wahai diri yg lalai!
adakah nikmat Tuhanmu kau syukuri?
adakah cobaan dr Tuhanmu kau tafakkuri?
padahal Allah sllu ad saat engkau buthkan,
padahal Dia sllu mjwb doa-doa yg kau panjatkan,
padahal ksh syng org2 dsktrmu mrpkn refleksi cinta kasihNya..

duhai Allah..