Diantara ini semua, dimanakah Aku?


Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tidak berbekas pada perbuatan.


Banyak orang baik, tapi tidak berakal..

Ada orang berakal, tapi tidak beriman..

Ada yang berlidah fasih, tapi berhati lalai..

Ada yang khusyuk, tapi sibuk dalam kesendirian..

Ada yang ahli ibadah, tapi mewarisi kesombongan iblis..

Ada yang ahli maksiat, tapi rendah hati bagaikan sufi..

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan..

Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat..

Ada yang murah senyum, tapi hatinya mengumpat..

Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut..

Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan..

Ada pezina, yang tampil jadi figur..

Ada yang punya ilmu, tapi tidak paham..

Ada yang paham, tapi tidak menjalankan..

Ada yang pintar, tapi membodohi..

Ada yang bodoh, tapi tak tahu diri..

Ada yang beragama, tapi tidak berakhlak..

Ada yang berakhlak, tapi tidak ber-Tuhan..

Lalu, diantara semua itu.. aku ada dimana?!

(ALI BIN ABI THOLIB, rodhiyaLLohu 'anhu)

Rapel oh Rapel


Berbicara tentang rapel dan gapok yang tak kunjung turun..Seringkali kita terlupa, bahwa Allah mengabulkan doa hambaNya dengan 3 cara:
  1. Dikabulkan dengan segera
  2. Ditunda hingga  waktu yang terbaik menurutNya
  3.  Dihindarkan dari keburukan
Untuk masalah kita mungkin jawabannya Allah sedang menunggu bersama kita, memberikan di saat yang tepat, bukankah seluruh ikhtiar telah kita lakukan dengan sebaik-baiknya?

Maka yakinlah Allah memenuhi hak kita di saat kita betul-betul siap menerimanya. Bukankah Dia yang lebih mengetahui apa apa yang terbaik bagi kita?

Mungkin kita saat ini sama-sama merasakan betapa sulitnya keuangan kita, sementara kebutuhan hidup yang kian banyak, tapi bukankah kita tidak sendiri? Ada temen-teman lain yang juga merasakan hal serupa.
Kalian percaya bukan, bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami? 

Sulit memang, tapi oleh karena ujian ini, bukankah kita merasakan lembutnya uluran tangan sahabat, saat kita membutuhkan bantuan? Maka Allah sedang mengajarkan kepada kita arti persahabatan.  

Ketika kita (mungkin) masih “meminta” bantuan kedua orangtua kita, bukankah itu artinya Allah sedang mengajarkan kepada kita, “jangan pernah  melupakan jasa kedua orangtuamu..” Agar kelak, ketika kita sudah “mampu” , kita tidak terlupa bahwa ada hak orangtua kita disana, bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga penghargaan dan kasih sayang.

Tak jarang kita menyaksikan kegigihan teman yang melakukan “penghematan ketat” demi menjaga izzah (harga diri) terhadap orang-orang disekitarnya, maka Allah mengajarkan kepada kita arti empati dan simpati.

Sungguh, Karena selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami.. Dan Allah selalu mempunyai cara terbaik untuk menyampaikan kasih sayangNya.. 

Maka, meski kita tidak tahu, apakah ini berkah atau musibah, katakanlah dengan penuh keyakinan bahwa:
 “Aku hanya akan bersangka baik pada Allah”
 
Sahabat,
mungkin upaya kita kali ini ialah mencoba lebih jujur pada diri, pernahkah kita bertanya dari lubuk hati terdalam, mengapa ini terjadi pada saya? Mengapa bukan di unit organisasi lain, mengapa harus saya dan teman2 yang mengalaminya? Mengapa kita begitu sulit, sementara disana begitu mudah?

Menunjuk hidung orang lain jelas lebih mudah, kawan.. Tapi tidak ada salahnya bukan, berkaca pada diri sendiri, adakah kita melupakan sesuatu?

Adakah hati orangtua kita terluka atas sikap-sikap kita selama ini?

Adakah  saudara kita yang tersakiti hatinya karena ucapan dan candaan yang tidak pada tempatnya?
 
Adakah ucapan sia2 yang selama ini selalu menghiasi bibir kita?
Adakah ibadah2 kita yang jauh dari sempurna?

Teruslah bertanya, maka kita kelak akan menemukan jawabannya. Mungkin kita bertanya, Apakah ada hubungannya semua itu dengan masalah kita? Jawabnya, ya.

Bukankah ridho Allah berada pada ridho kedua orangtua, dan murkaNya pun terletak pada kemurkaan keduanya?

Dan bukankah hati yang terzholimi memiliki kekuatan yang luar biasa, hingga Allah menjanjikan pengabulan doa orang yang terzholimi. Jika kita kini merasa berada pada posisi ini, berdoalah sebanyak-banyaknya, dengan kesungguhan.

Pun dengan ibadah kita selama ini, jika kita selama ini menyepelekan kewajiban kita terhadapNya, tidakkah kita malu untuk meminta disegerakannya hak kita?

Maka apapun yang menimpa, maka muhasabah adalah jalan yang tepat.
Ketika orang lain mengatakan sabar, ingin rasanya kita mengatakan, apakah kesabaranmu benar2 mengalahkan kesabaranku? Rasa2nya sudah habis kesabaran kita, tapi jangan lupa kawan, rizqi kita jika Allah hendak menahannya, maka tak ada seorangpun yang mampu melancarkannya jika tanpa kehendakNya.. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda;

 “...Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis.
Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan Allah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu.
Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya.
Semua aktivitasmu kerjakanlah dengan keyakinan dan keikhlasan.
Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan".
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi].

Maka buang rasa cemas itu, sebab selalu ada kemudahan setelah kesulitan.. Sebab Allah melihat usaha kita, Dia melihat kerja kerja kita, ia melihat kegelisahan kita, bahkan air mata kita selama ini. Dia tahu, Dia Maha Mengetahui..
Dan katakanlah, bekerjalah kamu maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui yang ghaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
(QS. At Tawbah: 105)

Saya percaya akan janjiNya. Kalian juga percaya bukan?;)

Semoga setelah ini kita akan turut senang saat teman yang lain mendapat kebahagiaan, pun kita turut menjaga perasaan teman2 lain yang sedang dalam kesempitan. Hingga kata solid itu benar2 wujud dalam tubuh ini. Sehingga segala prasangka berganti menjadi rasa percaya, ya,, hingga prasangka menjadi rasa percaya..

Tidak Sama Tawakkal dengan Pasrah

Akhir-akhir ini banyak sekali yang mensinonimkan antara sikap tawakkal dengan pasrah. Sungguh ini merupakan hal yang keliru. Jika pasrah yang dimaksud ialah keihkhlasan menerima ketentuan Allah tanpa diawali ikhtiar sempurna, maka ia bukanlah tawakkal. Karena tawakkal harus dimulai dengan ikhtiar, ada usaha disana, ada mujahadah, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda :

Ikatlah (untamu) dan bertawakallah kepada Allah.


Maka ikhtiar adalah keharusan. Ketika kita sudah berikhtiar, melakukan suatu pekerjaan secara optimal sesuai dengan kemampuan kita, maka setelahnya serahkanlah hasil kerja kita tersebut kepada Allah swt (tawakal'alallah). Kemudian barulah kita pasrah.  


Sebab, sesungguhnya Pasrah adalah puncak dari semua usaha yang kita lakukan itu. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar (berusaha), sesudah itu tawakal (menyerahkan diri), sesudah itu barulah pasrah. Janganlah kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu tanpa ikhtiar dan tawakal.


Rasulullah saw bersabda:
Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya..


Yuk, Mari kita bertawakkal dengan cara yang benar, yakni tawakkal yang diawali dengan ikhtiar dan diakhiri dengan pasrah dan qana'ah (menerima ketentuan Allah swt) Lalu iringilah semua tahap itu dengan doa. Sebagaimana firman Allah swt:


''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.'' (QS 2:186).


Wallahu'alam

“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!”

“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.

Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!


(Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.)


Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan.


Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya bagi saya.


Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan anak menjerit dan kemudian hilang.


Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat takut.  Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau ledakan.


Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah. Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak atau membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang menggigit tulang.


Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang berkebangsaan Mesir mengambil teropong.


“Allahu Akbar!” teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong sekenanya.


Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.


Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha terus tegar.
“Cokelat …,” sodor teman saya setelah mereka sampai di tenda penampungan kami.
Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang menyodorkan sebungkus cokelat tadi.


Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).


Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang berkebangsaan Mesir itu terkesiap.
“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!” katanya hampir setengah berteriak.
Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang dihantam berkali-kali.
Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan ucapannya,
“Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin membaca Al Qur’an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur’an.”
Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.


Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.
“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.
Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al Qur’an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.


[Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali, angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan tahunnya.)


== disalin dari:
Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah terabaikan? 45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan“,  bab “Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!” (hal 83-86)
Penulis: Irwan Rinaldi.
Penerbit: Progressio Publishing.
Cetakan Pertama, Juni 2009
 =00=


Subhanallah....






Lalu bagaimana dengan kita??




 
                     Pilih Mana??

Tentang Mandi Janabah

Posting kali ini saya coba sharing tentang tata cara mandi janabah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.  Penting bagi kita untuk mengetahui tata cara mandi janabah yang benar, sehingga kita betul-betul yakin sholat yang kita lakukan setelah selesainya mandi akibat berhadas besar,  sah dan diterima Allah swt.


Karena keterbatasan ilmu, maka hal yang berkaitan dengan posting ini saya copas dari link berikut : http://www.assalafy.org/mahad/?p=474
Semoga bermanfaat...^^


Salah Kaprah Karena Diterima Umum

Hai sobat sering denger yang kayak gini?

“Ih, jangan pegang sembarangan, ya! Kita tuh bukan muhrim!!”

atau mungkin obrolan macam ini..

“mau ke mana, Bu?” tanya seorang anak,

“Ibu mau silaturahmi ke rumah Bu Tejo”, jawab sang ibu

atau.. yang lumrah diucapin para tetangga deket rumah saat lebaran atau idul fitri,

Minal aidin wal faidzin, ye.. Mohon maaf lahir batin..”, kata si A

“sama-sama”, jawab si B

Hedeeeeeeh...-.-“

............................................................................................
Ups, emang apa yang salah dengan ketiga wacana di atas??
ketiga contoh di atas pastinya sudah sering kita dengar, diyakini dan dianggap benar, hingga akhirnya  menjadi sesuatu yang lazim. Padahal ketiga kata dan kalimat di atas sesungguhnya telah salah dalam pemahaman makna hingga ia pun salah dalam penggunaannya.
Oke, kita bahas satu per satu ya...

Kebaikan yang Mengintip

-Salim A. Fillah-
mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka
berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik

-oo-
Lelaki itu menyipitkan mata diterjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.
Di pintu biara, Rahib ahli ‘ibadah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tangannya. Dia letakkan satu di hadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.
“Rahib yang suci”, kata si lelaki. Dia berhenti sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku diampuni?”
Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”
Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh”, katanya, “Sebanyak sembilanpuluh sembilan jiwa.”