Tidak Sama Tawakkal dengan Pasrah

Akhir-akhir ini banyak sekali yang mensinonimkan antara sikap tawakkal dengan pasrah. Sungguh ini merupakan hal yang keliru. Jika pasrah yang dimaksud ialah keihkhlasan menerima ketentuan Allah tanpa diawali ikhtiar sempurna, maka ia bukanlah tawakkal. Karena tawakkal harus dimulai dengan ikhtiar, ada usaha disana, ada mujahadah, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda :

Ikatlah (untamu) dan bertawakallah kepada Allah.


Maka ikhtiar adalah keharusan. Ketika kita sudah berikhtiar, melakukan suatu pekerjaan secara optimal sesuai dengan kemampuan kita, maka setelahnya serahkanlah hasil kerja kita tersebut kepada Allah swt (tawakal'alallah). Kemudian barulah kita pasrah.  


Sebab, sesungguhnya Pasrah adalah puncak dari semua usaha yang kita lakukan itu. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar (berusaha), sesudah itu tawakal (menyerahkan diri), sesudah itu barulah pasrah. Janganlah kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu tanpa ikhtiar dan tawakal.


Rasulullah saw bersabda:
Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya..


Yuk, Mari kita bertawakkal dengan cara yang benar, yakni tawakkal yang diawali dengan ikhtiar dan diakhiri dengan pasrah dan qana'ah (menerima ketentuan Allah swt) Lalu iringilah semua tahap itu dengan doa. Sebagaimana firman Allah swt:


''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.'' (QS 2:186).


Wallahu'alam

“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!”

“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.

Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!


(Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.)


Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan.


Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya bagi saya.


Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan anak menjerit dan kemudian hilang.


Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat takut.  Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau ledakan.


Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah. Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak atau membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang menggigit tulang.


Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang berkebangsaan Mesir mengambil teropong.


“Allahu Akbar!” teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong sekenanya.


Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.


Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha terus tegar.
“Cokelat …,” sodor teman saya setelah mereka sampai di tenda penampungan kami.
Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang menyodorkan sebungkus cokelat tadi.


Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).


Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang berkebangsaan Mesir itu terkesiap.
“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!” katanya hampir setengah berteriak.
Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang dihantam berkali-kali.
Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan ucapannya,
“Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin membaca Al Qur’an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur’an.”
Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.


Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.
“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.
Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al Qur’an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.


[Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali, angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan tahunnya.)


== disalin dari:
Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah terabaikan? 45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan“,  bab “Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!” (hal 83-86)
Penulis: Irwan Rinaldi.
Penerbit: Progressio Publishing.
Cetakan Pertama, Juni 2009
 =00=


Subhanallah....






Lalu bagaimana dengan kita??




 
                     Pilih Mana??

Tentang Mandi Janabah

Posting kali ini saya coba sharing tentang tata cara mandi janabah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.  Penting bagi kita untuk mengetahui tata cara mandi janabah yang benar, sehingga kita betul-betul yakin sholat yang kita lakukan setelah selesainya mandi akibat berhadas besar,  sah dan diterima Allah swt.


Karena keterbatasan ilmu, maka hal yang berkaitan dengan posting ini saya copas dari link berikut : http://www.assalafy.org/mahad/?p=474
Semoga bermanfaat...^^


Salah Kaprah Karena Diterima Umum

Hai sobat sering denger yang kayak gini?

“Ih, jangan pegang sembarangan, ya! Kita tuh bukan muhrim!!”

atau mungkin obrolan macam ini..

“mau ke mana, Bu?” tanya seorang anak,

“Ibu mau silaturahmi ke rumah Bu Tejo”, jawab sang ibu

atau.. yang lumrah diucapin para tetangga deket rumah saat lebaran atau idul fitri,

Minal aidin wal faidzin, ye.. Mohon maaf lahir batin..”, kata si A

“sama-sama”, jawab si B

Hedeeeeeeh...-.-“

............................................................................................
Ups, emang apa yang salah dengan ketiga wacana di atas??
ketiga contoh di atas pastinya sudah sering kita dengar, diyakini dan dianggap benar, hingga akhirnya  menjadi sesuatu yang lazim. Padahal ketiga kata dan kalimat di atas sesungguhnya telah salah dalam pemahaman makna hingga ia pun salah dalam penggunaannya.
Oke, kita bahas satu per satu ya...

Kebaikan yang Mengintip

-Salim A. Fillah-
mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka
berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik

-oo-
Lelaki itu menyipitkan mata diterjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.
Di pintu biara, Rahib ahli ‘ibadah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tangannya. Dia letakkan satu di hadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.
“Rahib yang suci”, kata si lelaki. Dia berhenti sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku diampuni?”
Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”
Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh”, katanya, “Sebanyak sembilanpuluh sembilan jiwa.”

Pulang Membawa Rasulullah

Kembali teringat sebuah kisah menggetarkan, tentang bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menyelesaikan kasak kusuk yang terjadi ba’da perang Hunain. Mengubah prasangka menjadi kerelaan penuh cinta pada diri kaum Anshar atas ketetapan Allah dan Rasul-Nya..




Abbas Asyisyi dalam bukunya “Bagaimana Menyentuh Hati” menggambarkan kisah yang terjadi dengan sangat baik, berikut petikannya, semoga bermanfaat.
_oo_

"Dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak kerana banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun." 
(At-Taubah: 25)


Menuju Cahaya Islam


Allah punya banyak cara untuk menunjukkan hambaNya kepada cahaya Islam. Berikut kisah menarik, perjalanan Dr. Jeffrey LAng menemukan indahnya hidayah Islam saat ia menjalani keyakinan sebagai atheis.

dakwatuna.com

Ketika masih anak-anak, saat berjalan-jalan di pantai, Dr. Jeffrey Lang pernah bertanya pada ayahnya tentang keberadaan surga. Pertanyaan anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan bisa jadi pertanda bahwa suatu saat kelak, Lang bakal menjadi sosok yang melihat segala sesuatu dengan cara berpikir logis dan rasional.
Tanda-tanda itu terbukti, ketika Lang dewasa akhirnya menjadi seorang profesor bidang matematika, bidang studi yang tidak memberi tempat bagi apapun, kecuali logika.