Pasangan Idaman

Assalamu'alaikum, sahabat.
Memasuki minggu kedua arisan blog,saya agak deg2an. Pasalnya, tema kali ini memerlukan pembahasan yang cukup lama antar anggota arisan. Akibatnya, terpaksa saya harus kembali menulis di injury time. Duhh... *ya kali gara2 itu far, hihi
Daaan yang juga bikin deg2an lagi adalaah tema yang diangkat utk arisan blog kali ini, yaitu: 

Jika saya laki2, siapakah perempuan di Biro KLI yang saya idamkan?  *.*

Akan tetapi, berhubung ini blog saya, maka saya memutuskan untuk menerjemahkannya menjadi: 

Jika saya pria, siapakah  perempuan di Biro KLI yang saya idamkan untuk menjadi pasangan hidup?
*serius banget far *emang :D

Gambar dari sini http://anitasnotebook.com/

Meski kalo dibaca agak ngeri gimanaaa gitu, hihi...tapi gak juga kok. Intinya adalah saya akan bercermin. Kira2apa kriteria seorang laki2 dalam memilih pasangan. So, nantinya, saya akan berupaya menjadi perempuan sebagaimana sang laki2 memandang perempuan untuk menjadi pasangan hidup. *pusing ga sih kalimatnya haha

Berhubung sampel yang digunakan adalah teman2 di lingkungan Biro saya, maka lingkupnya menjadi lebih kecil saudaraah..Nah, sebelum masuk ke pembahasan utama kita, maka saya akan menyebutkan kriteria apa yang perluu ada utk menjadi pasangan idaman saya. Yuk mulai..

Pertama, muslimah shalihah.
Berhubung saya ingin menjadi pria yang beruntung, maka kriteria pertama adalah dia harus muslimah yang shalihah. Ini anjuran yang ditekankan Rasulullah saw dalam memilih pasangan, dan menomorsekiankan kecantikan, kekayaan, dan kedudukan. Yup, memilih krn agamanya dipastikan menjadi pria yang beruntung..

Kok bisa far? Sebab jika si wanita takut dan taat kepada Rabbnya, maka insya Allah si wanita juga akan taat kepada suaminya. Nah klo sama Sang Pemilik dunia dan seisinya aja ga taat, gimanalah mau taat sama suami yang cuma bisa kasih makan nafkah sesuai kemampuan, hihi

Yok lanjut...

Trus taunya gimna klo si perempuan ini taat? Diantaranya adalah mengenakan jilbab. Sholat 5 waktu dan mau terus belajar terutama tentang agama. Meskipun ada banyak juga ukuran yang bisa dipakai, tapi ketiga hal ini,menurut saya, wajib ada.

Kedua, menyenangkan jika dipandang
Serius loh, gak semua yang cantik itu menyenangkan jika dipandang. Cukup menyenangkan saat dipandang, maka seorang permpuan sudah menjadi cantik di mata saya. Ternyata Rasulullah SAW juga menganjukan demikian..Dalam salah satu hadist beliau saw bersabda bahwa salah satu dari 3 sumber kebahagiaan adalah wanita shalihah yang bila dipandang mengagumkanmu. 

Jadi cukup yang menyenangkan dan mengagumkan... Liatnya dari mana far? Wah kalo ini bingung juga jawabnya,,hihi Biasanya ini berhubungan dengan hati, jadi agak susah ditebak. Tapiii, sesuatu yang berasal dari hati akan mudah sampai ke hati juga.. Misalnya saja, saat orang lain tulus tersenyum, maka kita yang disenyumin jadi ikut bahagia... Beda kan kalo yang semyumnya cuma basa basi aja..
So, (mungkin yaa) itu bisa jadi salah satu indikatornya.

Ketiga. menjadi teman bicara yang menyenangkan dan meneduhkan.
Jika saya pria, maka saya akan bahagiaaaa banget kalo saya punya pasangan yang enak diajak bicara, terlebih mereka yang suka mendengarkan. Keahlian 'mendengarkan' ini tidak semua orang punya. Butuh orang2 sabar yang bersedia mendengarkan,semembosankan apapun cerita kita. Saya punya sahabat perempuan yang kalo saya melucu dan sama sekali ga lucupun, dia akan tertawa renyah.. Maasyaa Allaah. betapa betapa yaaa...
Rasanya seperti setiap ada hal apapun, maka orang pertama yang saya ingat untuk berbagai kebahagiaan (juga kesedihan) adalah sahabat saya yang satu itu.. :')

Keempat, peduli
Yaitu mereka yang ga hidup di dunianya sendiri, beda yaa sama orang introvert yang memang senang dalam kesunyian. Tapi ga berarti orang2 introvert itu ga care sama sahabatnya. Peduli ini bisa diterjemahkan dalam banyak bentuk. Salah satunya memberikan perhatian2 kecil yang ga semua orang bisa melakukannya. Sesuatu yang sederhana tapi *cess nyampe ke hati :D

Kelima, dapat dipercaya.
Nah ini juga kuddduuuuu banget ada. Saat kita mempercayakan sesuatu kepada orang lain, menceritakan hal2 yang ga semua orang tau, di situ berarti kita menitipkan sesuatu yang berharga dari diri kita kepada orang lain. Klo kita yang ada di posisi orang yang dipercaya, maka jangan siakan kepercayaan orang tersebut kepada kita *ntms nih

Keenam, selalu support dan bersangka baik
Dua hal ini layaknya kepingan mata uang yang tak terpisahkan. Hadirnya dua sifat ini pada diri sesorang yang menjadi pasangan hidupmu adalah anugerah yang patut disyukuri. Saat kita lemah, ada yang mendukung. Kemudian tidak mudah berprasangka buruk. Dia selalu mencari2 alasan utk berprsangka baik kepada orang lain *jarang bgt yaa yg kayak gini

Ketujuh. Senang menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
Teman yang baik, bukanlah mereka yang selalu membenarkan apapun sikap kita, tetapi mereka yang berani mengatakan salah, saat kita berbuat hal yang keliru. Apa lagi yang jadi pasangan hidup, harus banget ini menasehati dalam kebenaran. Tapi dengan cara yang baik yaa, yang santun. Termasuk juga menasehati dalam kesabaran, sebab hidup itu pasti ada sakitnya, ada jatuhnya, ada pahitnya. Meski tau sabar itu penting, kita selalu butuh orang2 yang mau membri nasehat utk selalu sabar.

Kedelapan, cerdas. :)

Gituu aja..
Ada ga yaa.. perempuan kayak gini, terkhusus lagi di Biro KLI?

Jawabnya ada.. Yeaay..

Daaan yang masuk nominasi adalah:
1. Mbak Echi
2. Mbak Lulu
3. Mbak Hayyu
4. Mbak Reny
5. Mbak Anggit
6. Mbak Pipit

Kalo muslimah shalihah, insya Allah keenam2nya masuk yeaay.. aamiin. Mereka berjilbab, sholat 5 waktu, dan seneng ikut kegiatan agama di kantor macem tahsin, kajian, dll.. :D
Terus keenam2nya sangat menyenangkan dan mengagumkan jika dipandang.. Buat saya iya bangett

Namun saya harus menjatuhkan pilihan pada satu orang saja *ceritanya setia
Maka pilihan jatuh pada Mbak Lulu, yeaay selamaattt *fiuh
Ketujuh kriteria ini insyaa Allah ada pada semua teman yang saya sebutkan di atas. Sayngnya yang jomblo cuma tinggal satu, hihi

Apapun sebenarnya setiap kita harus terus memperbaiki diri, karena jodoh kita adalah cerminan kita. 
Kriteria kita terhadap pasangan harusnya jadi refleksi tentang apakah kita sudah layak dan punya karakter yang jugademikian. Klo belum minta pertolongan kepada yang Maha segala agar setiap upaya kita dimudahkan.

*akhirnya tema blog yang berat ini selesai dibahas juga dengan cara yang agak berat, hehe
Selamat bercermin dan memperbaiki diri, far :'( *ayoklah












                  

My Workspace so Simple

Setelah empat tahun lamanya, Allah mengingatkan saya akan keberadaan blog ini. Salah satunya lewat ajakan teman untuk ikut meramaikan arisan blog. Maasyaa Allah, kreatif ya mereka :')

Padahal, dalam kurun waktu selama itu, saya sudah pindah ke sana-ke sini. Mulai dari pengalaman rotasi eselon III, lanjut tugas belajar satu setengah tahun, balik ngantor lagi, hingga menghadapi kenyataan untuk bermigrasi ke tempat baru. Dan...disinilah saya. Mulai mengisi kembali blog yang udah lama ga dikunjungi. Pantes ya pengikutnya ga nambah-nambah..hehe

Di tempat yang baru ini, ada hal baru (juga) yang bikin saya excited. Yap. Meja kerja dengan kubikel. Meskipun banyak yang ga gitu suka dengan 'pengkotak-kotakan' yang diciptakan ala si kubikel ini, saya cenderung yang seneng-seneng aja hehe. Pasalnya, privasi lebih terjaga dan saya tipikal yang senang memiliki waktu sendiri. Orang bilangnya introvert kali ya. Hal ini yang bikin saya jadi lebih konsentrasi dalam bekerja.

Balik lagi tentang kubikel, satu hal saja yang kurang oke dari kubikel ini menurut saya adalah menciptakan jarak pandang yang sempit. Padahal, layar kerja pada komputer seringkali bikin mata jenuh. Terlebih komputer yang saya miliki alhamdulillah besaaar, sehingga lebih cepat bikin mata lelah. Tapi kata Mbak Irma (lirik rekan kerja di samping) "jangan sedih". Cukup lemparkan pandangan mata ke luar jendela.

Bagimanapun, saya cenderung yang gak punya banyak tuntutan utk yang namanya workspace yaa.. Soalnya saya tahu hal apa aja yang bisa menaikkan mood saya saat bekerja. Salah satunya melalui benda bernama headset. Maka jangan heran kalo sering lihat saya menggunakan headset saat bekerja.

Yang didengerin apa? Percaya ga percaya, saya masih bisa bekerja sambil mendengarkan kajian a.k.a. ceramah. Tapi kalo udah mulai ganggu konsentrasi, kajiannya distop dulu, ganti dengan yang gak perlu disimak semisal nasyid dan teman-temannya.

So, meja kerja saya standar-standar aja. Asalkan ada ATK yang memadai dan headset, amanlah sudah. Sebab hal yang paling bisa bikin saya konsentrasi lama di depan komputer (baca: bekerja) adalah memulai hari dengan mendekatkan diri sama Allah.

Caranya banyak ya, mulai dari berdoa dulu sebelum berangkat kantor "bismillahi tawakaltu 'alallah laa haula wa laa quwwata illa billah" sampe memulai pagi dengan sholat dhuha atau tilawah. Boleh dicoba ya kakak, insya Allah hari itu jadi makin semangat. Yeayy.

Intinya workspace ga gitu ngaruh dengan semangat kerja saya, asal rutinitas harian pagi kudu dijalanin sebelum kerja.  Sarapan untuk tubuh dan sarapan untuk hati.







Buta



Jika kini kita tak mampu lagi melihat sebagaimana harusnya nurani melihat.

Tak mampu lagi memandang sebagaimana harusnya nurani memandang.

Mungkin inilah saatnya bagi kita bertanya,

buta mata atau hati?


...Sungguh bukan mata itu yang buta, tapi hati di dalam dada.. (Al Hajj:46)





Sebab Kesabaran Tak Hanya Teori



Mudah memang berbicara tentang sabar, namun kala ia benar-benar diperlukan kehadirannya, justru lebih sering kalah oleh emosi sebagai hasil reaksi kita atas aksi dari tindakan orang di sekitar kita. Demikianlah, kadang prasangkaan atau mungkin kesalahan memaknai rasa yang tak jarang membuat kita salah mengambil sikap. Akan ada banyak alasan yang bisa kita kemukakan, lantaran 'salah ambil sikap' yang dikuasai emosi, tapi justru jika dibiarkan berlarut-larut ia bisa berbuntut pada permasalahan panjang. Tak kunjung usai.

Pada akhirnya refleksi diri adalah hal terbaik, berkaca lagi, introspeksi diri. Sebab akan selalu ada seribu macam alasan yang mampu membenarkan sikap buruk kita. Tapi itu semua mampu dikalahkan oleh kepekaan hati. Bahwa jalan terbaik adalah mengusahakan damai pada diri, damai pada orang-orang di sekitar kita. Ya, tak perlu menyalahkah sana-sini lantas mencari pembenaran atas sikap kita. 




Permintaan maaf kita terhadap orang-orang yang mungkin kita sakiti akan membukakan kesadaran kita, tentang hakikat manusia yang penuh kealpaan. Namun dianugerahi Allah sikap saling maaf-memaafkan. Lalu saling menertawakan diri. Bahwa sungguh kita telah dewasa. Karenanya jangan kalah oleh sikap anak-anak yang sungguh mudah dan mampu bermaafan. Jika ada kesalahan, bermaafan lalu main bersama lagi. Tak ada tempat singgah untuk dendam. Biarkan ia hanya dalam bentuk lintasan hati yang segera kita enyahkan. Ya, sebab bukan disini tempatnya tinggal.

Jika sudah demikian, maka jangan sampai kita jatuh pada lubang yang sama. Kuatkan tekad, lalu mohon kekuatan kepada Yang Maha Kuat, mohon sikap lembut kepada Yang Maha Lembut. Sebab tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan Allah.

----




Sebuah refleksi diri, sebab sabar tak hanya teori. Tekad, kemauan dan praktikan. Tekad kita butuh suatu pengingat abadi, dan tulisan bisa menjadi sarana terbaik. Mengapa perlu ditulis? Sebab dengan tulisan, ia menegaskan kemauan kita, ia yang juga mengingatkan kita atas janji-janji kita pada diri. Janji untuk tidak melakukan kesalahan ini, atau untuk selalu mengusahakan tindakan itu. 

Ya, akhir-akhir ini seringkali tak bisa mengaplikasikan sabar dengan sebaik-baiknya. Padahal ini pernah menjadi tema dalam tulisan saya di salah satu media. Izinkan saya menuliskannya kembali sebagai pengingat dan penguat tekad.

---


Indonesia sebagai sebuah negara yang masyarakatnya heterogen, rasanya tak asing dengan berbagai perbedaaan yang akhirnya berujung pada kerusuhan. Sebut saja beberapa kasus yang akhir-akhir ini cukup banyak mengisi wajah surat kabar dan media elektronik kita. Kekerasan kini menjadi salah satu alternatif pilihan bagi masyarakat kita dalam menyelesaikan berbagai masalah. Cukuplah berbagai kejadian tersebut menghentakkan kesadaran kita arti pentingnya pengelolaan diri melalui sabar. Tak perlu jauh-jauh mencari sebab yang berada jauh di luar kita, lalu lupa menyoroti diri lebih dalam. Sebab tak jarang dari hal yang paling dekat dan sederhanalah segala hal bermula.


“Bersabarlah dalam segala hal, namun yang terpenting adalah bersabar terhadap diri anda sendiri. Jangan sampai keberanian anda hilang karena anda menyadari ketidaksempurnaan anda, sebaliknya berpikirlah untuk memperbaikinya – setiap hari mulailah dengan hal baru.”
- St. Francis de Sales –






Fenomena yang terjadi saat ini sungguh tak lepas dari kurangnya kesabaran menghiasi hari-
hari kita. Bahkan setiap fase dalam hidup kita menuntut kesabaran. Kesabaran bukan hanya masalah  tahan menghadapi cobaan. Orang-orang besar dalam sejarah mebuktikan, bahwa kesabaran mereka jadikan tunggangan layaknya kendaraan yang mampu meghantarkan mereka menuju satu tujuan tertentu bernama kesuksesan. Sebut saja Sir Issac Newton, Thomas Alfa Eddisson, Abu Qosim Az-Zahrawi, dan Ibn al-Haitham, mereka melalui penemuan besarnya berhasil memberikan sumbangsih luar biasa dalam teknologi modern yang kesemuanya dicapai melalui manajemen diri bernama kesabaran.


“Jika saya berhasil membuat sebuah penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya dibandingkan dengan keahlian lain yang saya miliki.”
- Sir Isaac Newton –


Jika demikian, sungguh sabar menjadi begitu luas maknanya. Ia jelas bukan sekedar kepasrahan hati menerima keadaan dalam tiap episode hidup kita. Ia bahkan mampu menjadi sebuah kekuatan besar yang bukan hanya menjadi pilihan hidup, tapi layaknya nutrisi penting yang tak boleh tak ada. Keberadaanya menjadi sebuah keniscayaan. Karenanya, bolehlah kiranya kita membagi kesabaran dalam empat kategori: pertama, sabar dalam menghadapi musibah, kedua, sabar untuk tidak melakukan hal yang buruk di mata Tuhan maupun sesama manusia, ketiga sabar dalam menaati aturan hidup bermasyarakat dan beragama, dan terakhir sabar dalam usaha mencapai kesuksesan hidup yang mulia.


Sabar terhadap musibah yang menimpa adalah jenis kesabaran yang rasanya telah kita ketahui maknanya. Bahwa mengais hikmah dalam segala hal yang hadir adalah salah satu upaya yang mampu mewujudkan jenis kesabaran yang satu ini. Dan syukur adalah sisi mata uang lainnya yang bersisihan dengan kesabaran dalam menerima musibah, sehingga musibah menjadi lebih mudah diterima dan mampu membuat kaki tetap berpijak yakin. Kesabaran model kedua dan ketiga layaknya pagar dalam melindungi rumah, ia yang menjaga agar fase besar bernama kehidupan dapat berjalan secara berkesinambungan, harmonis dan nyaman. Karena tiap pribadi memiliki kepentingan yang tak selayaknya saling berbenturan dan berakhir dengan kekerasan. Terakhir, kesabaran yang mengiringi kegigihan dan tekad kuat kita, agar hidup tak hanya sekedar ini. Ada tujuan mulia yang hendak dicapai. Dan masing-masing kita punya nilai sendiri yang dijadikan patokan standar, tentang apa itu sukses dan bagaimana menjadi pribadi mulia.


Pengertian sabar yang lebih komprehensif membawa kita pada satu pemahaman baru. Bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, baik dalam lingkup kecil yang bersifat personal maupun lingkup yang lebih besar bernama masyarakat, tak salah rasanya bila kita kembali menengok lebih dalam, sudahkah manajemen bernama kesabaran itu kita hadirkan?


”Kesabaran tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam. Membangun kesabaran sama halnya dengan membangun otot. Setiap hari anda harus mengusahakannya.”
- Eknath Easwaran -




Rumah Spesial




Inginkah kalian di dunia ini memiliki sebuah rumah?
Jika kita bicara tentang rumah, terlebih kota Jakarta yang apa-apa mahal, mestilah tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk memperolehnya, kecuali dengan berhutang, kredit dengan bunga yang tidak bisa dibilang sedikit, pinjam tetangga kanan-kiri, depan-belakang, dan lain sebagainya. Tentu lain ceritanya bagi mereka yang beruntung bisa memilikinya secara gratisan karena warisan orang tua, hehe. 

Padahal, bagi mereka yang mengahabiskan waktunya jauh lebih banyak di luar rumah karena tuntutan pekerjaan, berapa jam sih yang secara rill dirasakan penghuni rumah untuk menikmati hasil jerih payahnya itu? Tak jarang kan rumah cuma sebagai tempat untuk tidur saja? Sesaat sekali, yang dirasa pun hanya beberapa saat sebelum terlelap dan esok harinya saat terbangun. Itupun jika Allah masih mengizinkan kita hidup kembali. Mungkin ini juga sebabnya setelah bangun tidur kita disunnahkan untuk berdoa yang artinya:

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan kepadanya kami akan kembali"

Kembali ke soal rumah, jika demikian, jika boleh buat hitung-hitungan secara asal, bisa kita peroleh rumus sebagai berikut:

Rumah Sederhana setara dengan :
*Cicilan utang sejumlah hampir separuh gaji dikalikan belas hingga puluhan tahun, plus
*Kerja hampir sepenuh waktu (agar bisa bayar cicilan rumah tadi)

NB: Dinikmati saat weekend saja bonus kesempatan menikmatinya sesaat sebelum tidur

Hwaaaaa.... Gak sebanding banget ini mah namanya.
Nah, jika sedemikian besarnya usaha yang kita lakukan untuk bisa memiliki rumah sederhana di dunia, dengan pertimbangan ya itu tadi, sesaaat sekali bisa menikmatinya. Maka tidakkah kita tergugah untuk memperoleh rumah spesial yang satu ini?

Jadi, begini.... Allah swt menjanjikan akan membangunkan untuk kita sebuah rumah di syurga. Kalian dengar? Allah subhanahu wa ta'ala menjanjikan sebuah rumah bagi kita di syurga. Jelas rumah ini bukan sembarang rumah, rumah ini spesial luar biasa. Rumah terindah, terbaik, ternyaman, yang mungkin pernah kita bayangkan.



Sebab, rumah ini Allah yang membangunkan.
Allah, Tuhan Pemelihara langit dan bumi, Robb yang menciptakan segala macam keindahan alam yang menakjubkan di dunia ini, berjanji akan membangunkan untuk kita sebuah rumah di syurga.  Allahu Akbar. *.*

Jangan tanya luas dan bagusnya rumah yang Allah bangunkan buat kita, jangan tanya nyaman dan sejuknya, indah dan membahagiakannya.. Sebab ini semua Allah yang menyiapkan, bahan bakunya, propertinya, halamannya, pagarnya, kolamnya, huaa subhanallah.  Barakallah..

Tapi jelas ini semua tidak gratis, di dunia saja rumah sederhana demikian mahalnya, tapi ini tidak demikian. Ada hal sederhana yang bisa kita usahakan. Demi Allah sederhana sekali, hanya perlu kesungguhan kita, konsistensi dan baik sangka dalam menjalankan amalan yang satu ini. Apakah itu? Kalian siap mendengar penawaran ini?
Jeng.. jeng.....

Cukup dengan mengerjakan sholat sunnah rawatib 12 rakaat setiap harinya.

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:  Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Subhanallah, ini jelas hitung-hitungan yang sangat menguntungkan, tidak seperti di dunia yang penuh kapitalisme, hitung-hitungan manusia banyak sekali yang dirasa tidak adil. Untuk yang satu ini berbeda, sebab ini adalah tawaran dari Allah, yang disampaikan melalui lisan Rasulullah saw.

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

Jika demikian tunggu apalagi, kawan..
Segera ambil penawaran menarik ini. Mulai sekarang jangan pernah tinggalkan 12 rakaat rawatib setiap harinya, yakni :
  1. Dua rakaat sebelum subuh (yang jelas lebih baik daripada dunia dan seisinya)
  2. Empat rakaat sebelum zuhur
  3. Dua rakaat setelah zuhur
  4. Dua rakaat setelah maghrib, dan
  5. Dua rakaat setelah isya
Jika muncul rasa malas itu, ingatlah rumah spesial di syurga yang Allah akan bangunkan bagi kita.. Sungguh mahal dan tak sebandingnya rumah di dunia yang kita usahakan dengan kerja keras dan pengorbanan, tapi hanya bisa dirasakan sesaat sekali. Padahal rumah di syurga jelas lebih berharga dan indah bukan? Juga lebih kekal dan tak berkesudahan.
Karena Maha Pemurahnya Allah, cukup hal sederhana yang perlu kita lakukan untuk rumah spesial kita di syurga..
12 rakaat sunnah rawatib..

Kalian percaya dengan hari berpulang bukan? Kelak kita akan kembali kesana, sungguh..
kampung akhirat. Jika tak mampu membeli rumah sederhana di dunia fana ini, ada rumah spesial di syurga yang menanti untuk kita tempati, kawan.. Mari mulai sekarang laksanakan dengan penuh kesyukuran dan keyakinan. 

Semoga Allah menggerakkan hati kita, untuk selalu berikhtiar demi kebahagiaan yang sesungguhnya, di kampung halaman kita nanti.
Akhirat!

Sungguh, Bahagia itu Sederhana



Setiap kita ingin selalu merasa bahagia.
Bahagia, yang hanya dapat dirasa oleh hati, sayangnya tak selalu bisa membersamai.
Padahal, bahagia itu sederhana sekali.


Tak jarang ia hadir dalam senyum dan sapa ramah sederhana, 
wajah-wajah ceria, serta sambutan hangat, 
yang sering kali luput kita rasa,
oleh karena memaknai hanya sebatas usaha "basa-basi"


Bukan, ini jelas bukanlah masalah kondisi di luar kita. 
Ini hanya perkara salah memaknai rasa.


Sungguh, terkadang bahagia sulit hadir karena kita yang tak hendak menyambutnya. 
Menutup pintu hati terlalu rapat, untuk sekedar menghargai.
Atau berusaha menghadirkan baik sangka yang hanya setengah hati.


Padahal sungguh, bahagia itu sederhana sekali,
Ia hanya masalah persepsi.
Sangkaan baik kita, kepada Robbul Izzati,
atas hidup yang kita jalani,
dan orang-orang yang membersamai kita.


Belumkah kau temukan ia?
Cobalah kau cari lebih teliti
Barang kali ia hanya bersembunyi dalam khusyuk sholatmu, 
dalam doa-doa tulusmu, 
dalam sujud-sujud panjangmu, 
dalam ikhtiarmu,
dalam tawamu,
atau bahkan tangismu


Jangan salah kawan, 
barangkali ia hanya ingin kita temukan..


ya, 
dalam iman di hatimu..


=00=
Percaya, Syukur dan Berbahagialah :)

Sore itu di angkutan kota




Pada suatu masa,
ibu pernah bercerita padaku tentang arti cinta
Bahwa ia hadir bukan karena keindahan rupa, ia hadir bukan karena manisnya kata yang hanya mengeruhkan hati.
Ia hadir karena kesungguhan cinta Robb Nya.

ah, ini membuatku teringat pada percakapan di kala itu

Sore itu, dalam angkutan umum yang penuh sesak aku membersamai seorang yang kuhormati. Entah bagaimana akhirnya percakapan kami mengarah pada tema di atas.
Sosok di sampingku ini, semenjak mengenalnya ia seringkali mengajarkanku arti sebenarnya tentang cinta.
Ia, tidak melulu pada hubungan dua orang yang saling mengasihi. Terlebih hubungan yang belum diikatkan tali suci, sehingga seringkali syaithan  ikut bermain2 dalam gejolak rasa yang ada diantara keduanya.


"Cinta itu, akan hadir dengan sendirinya, dek.." tegasnya

"Eh?" tanyaku

"Bila telah menikah, cinta itu akan hadir dengan sendirinya" ia mengulangi

Dalam hati, aku masih merasa sangsi atas apa yang diucapkannya.

"Dulu mbak juga sempat merasa gak yakin, pernah ada masanya mbak bertanya pada diri, sudahkah cinta itu hadir?"
Tapi Allah Maha Mengetahui dek, Ia maha Berkuasa."  Ia tersenyum mengambil jeda.

"Sepanjang perjalanan pernikahan kami mbak mengambil kesimpulan bahwa Allah akan membuat pandangan antar kedua orang yang mencinta -suami-istri- mampu memandang keindahan, keunikan pasangannya yang tidak dapat dilihat oleh orang lain" lanjutnya

"Maksud mbak?" aku tak mengerti

Ia kembali tersenyum, lalu melanjutkan,

"Dulu mbak sering bertanya, kenapa si A yang begitu tampan bisa mempertahankan pernikahnnya dengan si B yang sama sekali tidak cantik, mengapa si C yang demikian pintar ternyata sangat mencintai istrinya yang kurang dalam hal akademik. Semua itu, membawa mbak pada satu kesimpulan, bahwa Allah lah yang mengatur segala sesuatunya dengan sangat baik, sehingga setiap pasangan mampu melihat kelebihan pasangannya meski terkadang hal itu tidak dapat dinalar oleh orang2 di sekitarnya."

Aku pun tersenyum mengiyakan pendapatnya.

"Allah akan meyakinkan kita, dalam perjalanan hidup ini, bahwa orang terkasih yang hadir dalam hidup kita memang memilki kelemahan, sebagaimana tak sempurnanya manusia biasa krn ia bukan malaikat, tapi sungguh, kelemahan2 tsb mampu tertutupi dengan kelebihannya yang mungkin di mata orang tak seberapa. Akan tetapi saat yang merasakan adalah pasangannya, maka Allah akan mengokohkan keyakinan kita, bahwa kelebihan inilah yang sesungguhnya dibutuhkan dalam menjalani kisah kehidupan rumah tangga untuk seterusnya." 

Ah, Subhanallah berat ya..hehe

Kecintaan kepada Allah, membuat sesorang mampu memposisikan dirinya dengan baik.
Ia akan berusaha menjadi suami terbaik, istri terbaik, dalam kondisi apapun.
Bukankah Ketika seseorang mensyukuri segala hal yang hadir, maka Allah akan menitipkan cinta di sana..
Sebab sejak awal ia telah mendahului tiap laku dengan kecintaan pada Robb nya, 
Ia mulai segala sesuatu dengan hal yang baik, maka insya Allah akan berakhir baik pula.
Tugasnya hanya merawat cinta, menumbuh kembangkannya hingga menjadi bunga2 indah di syurga ^^

*merekamkisahyanghampirterlupa
Jakarta, pinggir sungai ciliwung