Wangi Jejakmu

Hari itu sekolah diliput salah satu media Islam. Majalah Sabili namanya. Pasalnya, sekolah dasar negeri itu bak sekolah muslim. Para pelajar putrinya ramai mengenakan kerudung.

Pada masa itu, sekolah negeri di Jakarta belum menerapkan aturan pakaian Muslim pada hari Jumat. Kerudungpun belum marak digunakan seperti sekarang. Otomatis, fenomena ini jadi barang langka.

Kepada Sabili, para pelajar putri menceritakan bagaimana guru agama mereka, berulang kali menyisipkan nilai tentang kewajiban berhijab. Upaya sang guru rupaya mampu menggerakan para siswinya untuk mengenakan hijab. Bukan hanya satu-dua, melainkan hampir seluruhnya.

Saat Sabili mengambil gambar suasana sekolah, tampak beberapa siswi tak berkerudung menunduk malu. Bukan karena mereka tidak mau berhijab. Hari itu, mereka terpaksa melepas hijabnya. Sebab, kain kerudung satu-satunya yang mereka miliki sedang dicuci. Cuci kering pakai.

Setelah majalah diterbitkan, sekolah kebanjiran bantuan. Mulai dari kerudung, hingga berupa uang tunai. Sebagai apresiasi, profil sang guru dimuat besar-besar pada halaman majalah, .

Berbicara tentang sang guru, ada banyak kisah yang bisa saya bagikan tentangnya. Setiap kali jadwal mengajar, misalnya, sang guru telah menyusun rencana ajar jauh-jauh hari. Jika disibukkan urusan domestik dan kuliah, tidak jarang sang guru perlu lembur untuk mempersiapkan bahan ajar esok hari.


Meski lelah, paginya sang guru datang dengan berseri-seri. Agama Islam menjadi mata pelajaran yang diembankan kepadanya. Jangan ditanya respons murid-murid tentangnya. Tiap kali tiba giliran sang guru mengajar, anak-anak girang bukan kepalang.

Penghasilan sang guru tidak seberapa. Tanggungan anaknya saja ada lima. Akan tetapi, jangan ditanya bila ada murid yang kesusahan. Mata jelinya pandai menangkap kegelisahan. Sang murid akan diberi beberapa receh uang tunai agar bisa jajan. Hal itu dilakukan bukan sekali dua.

Sang guru tidak risih saat anak-anak muridnya bergelayut manja. Begitupun yang ramai curhat perkara-perkara sepele. Pernah suatu kali terjadi kasus pencurian di kalangan siswa. Maka, sang murid yang berulah hanya mau mengaku pada sang guru, bukan dengan yang lain. Tertunduk menangis menceritakan kondisinya.

Tidak mengherankan, saat ada acara pemilihan guru favorit, sang guru keluar sebagai pemenangnya. Setiap tahun namanya selalu muncul sebagai juara. Sampai-sampai pada pemilihan berikutnya nama sang guru terpaksa ditahan. Demi memberi kesempatan bagi para guru lainnya.

Di kalangan guru, beliau juga populer. Saat ada kelebihan rejeki, meski tidak seberapa, para rekan guru lainn akan kebagian berkahnya. Apalagi terhadap rekan pengajar honorer yang memiliki gaji tidak seberapa. Beliau akan jadi yang paling pertama menyisihkan kelebihan rejekinya untuk mereka.

Sayangnya, sang guru kini telah tiada. Namun, catatan kenangan yang beliau berikan begitu berharga. Barangkali benar, bahwa Allah mengambil orang-orang baik dengan begitu cepat.

Selamat jalan, wahai ibu guru. Semoga segala kebaikanmu berbuah amal jariah yang tidak pernah henti hingga akhir zaman. Semoga Allah berkenan menempatkan engkau pada tempat terbaik di sisi Nya.

Selamat jalan wahai ibuku,
Kami, anak-anakmu, sangat merindukanmu.



Sederhana Itu..

Sering kali yang membuat seseorang terbebani dlm hidup adalah karena ia terlalu berpikir rumit. Kekhawatiran kita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan misalnya. Tak jarang pula, hal2 sepele dibesar2kan. Perkara mudah dibuat sulit. Dan sebagainya.

Maka, berpikirlah sederhana. Misalnya saja kehilangan org yg paling kita cintai. Ini memang perkara besar, tp memandang dengan koridor yg benar bahwasanya Allah adalah Sang pemilik yang sangat mudah mengambil kembali apa yang Dia miliki, menjadikan penerimaan atas rasa kehilangan menjadi lebih sederhana. Bahwa akan ada giliran utk kita nanti dipangggil pula oleh-Nya.

Sederhana itu lebih luas maknanya. Bahwa ia juga berarti kesederhanaan pilihan, kesederhanaan pemikiran, kesederhanaan perilaku, dan masih banyak lagi.

Gambar dari sini

Hal apa yang sudah saya lakukan utk kesederhanaan itu? Saya masih belajar. Memahami utk apa kita hidup, boleh jadi bisa membuat kita mampu menjadi lebih sederhana pada semua aspek kehidupan. Sebab sederhana tidak sesederhana namanya. Bahkan bukan tidak mungkin, ia mampu menjadikan kita menggapai hal2 yg melampaui kata sederhana itu sendiri.


Momen dan Lagu

Tiap episode hidup itu, punya rasanya masing2.. Iya gak sih? Rasa saat masih belum sekolah, masa sekolah dasar, masa SMP, SMA, kuliah, kerja, dan seterusnya.

Di tiap2 episode hidup, ada kenangan dengan rasa yg berbeda. Tema blog kali ini ingin ngepoin anggota arisan ttg apa lagu yg bikin kmu inget ttg episode hidup kmu, gtu bukan ya mksdnya mb fieth? Hehe

Feeling * gambar dari sini

Baiklah.. Ini cerita saya.

Satu:
Hal yg menyenangkan hati, byk sekali bahkan kalau kita bermimpi, sekarang ganti baju, agar menarik hati ayo kita mencari teman.

Di dunia ini, semua hal bisa terjadi, dan apa yg akan terjadi, kita tak akan pernah mengetahui, marilah kita hadapi, pasti ada jalan keluar, hari ini entah siapa yg kan bahagiaaa...

Dua lagu itu, selalu berhasil menarik saya ke suatu pagi tatkala nasi goreng buatan ibu sudah rapi di depan TV... Kluarga sederhana kami memang tdk biasa makan di meja makan. Sengaja TV disetel keras2 utk membangunkan  saya beserta swdra kembar saya demi brsedia bangun diemeng2i tontonan kesukaan hingga siang. Bahagia. Sambil disuapi ibu utk makan, sarapan di Minggu pagi selalu terasa istimewa.

Dua:
Hitoshi...Hitoshi omoidassba, subete wakatte ita, ku ga shite ita no ni, iroaseta kotobawa boku no sugu soba ni oite atta.

Kotae No Denai yoru to, hitohira ni nukumori to, Haruka kanata No akogare to, tada sore dake o kurikaeshi boku wa ikite iru.

Kini ryoute ni kakaete iru mono toki No shizuku, sotto nigirishimete wasureta kioku, nakushita kotoba... (Naruto, nakushita kotoba)

Ini lagu selanjutnya yg ga pake lama, lgsg buat saya melow gimnaaa gitu. Gimana enggak, lagu ini entah kenapa selalu terngiang sepanjang perjalanan dr rumah ke kosan pada tahun pertama kuliah D3 dulu. Adalah kali pertama bagi saya berjauhan dengan keluarga. Berat. Ga ada lagi ibu, ayah, swdra kembar dan adik saya yg bs setiap saat saya temui. Pdhal hanya sepekan sekali aja, saya berpisah dg mereka, alias tiap Minggu pulang, hihi. Daaan entah knp perasaan itu ckup lama singgah, ditemani sayup2 lagu itu yg ga brhenti trngiang sepanjang perjalanan brgkat ke kosan. Haha

Tiga:
Ini yg paling spesial.
Adalah setiap Ramadhan, saat kecil dulu. Saya bersama ayah, ibu, dan keempat swdra saya duduk rapi selepas sholat subuh. Seperti hari2 Ramadhan biasanya, ayah mulai memberikan hafalan surah pendek. Kala itu, surah pilihannya adalah Al Balad. Menjadi hal yg sunnah utk memperindah bacaan Al quran. Surah Al Balad yg sedari kecil sdh diajarkan hingga kini membekas. Saya masih bisa mengikuti bgaimana ayah membawakan (me-lagu-kan) surah tsb hingga kini. Indah dan berkesan. Tanpa keluar dr hukum bacaan.

Maka, diantara kesemuanya, hanya Al Quran yg benar2 menentramkan.  Sebagus dan seenak apapun lagu yg paling kita suka. Tidak ada yg bs menandingi nikmatnya membaca dan mendengarkan Al quran. Dan ayah saya berhasil melakukannya: menjadikan Al quran sebagai bagian hidup yg paling berkesan hingga kini. Maka, tiap kali Ramadhan, ada surah Al Balad yg membersamai kenangan saat kluarga kami masih lengkap di bawah atap dan langit yg sama.


Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)

Puisi tentang

Padanya kutemukan
Sebongkah rasa yang wujud dalam laku
Pada lisannya
Pada tatap matanya
Pada senyumnya
Pada lirih doanya.

Padanya kutemukan
Sebenar-benarnya arti cinta
Dalam jerihnya
Dalam tangisnya
Dalam marahnya

Padanya kutemukan
Bahwa cinta melebihi batas-batas dunia
Melewati rasa suka tidak suka
Saat kehadirannya
Tidak lagi tampak di depan mata
Tidak lagi hadir di sini

Namun tetap terasa
Dalam
Hangat
Penuh
Besar
Membuncah
Menyesakkan

Merinduimu, itu cinta
Mendoakanmu, itu cinta
Memohon maaf untukmu, itu cinta

Bila ada yg bertanya padaku,
Apa itu cinta?
Jawabku, itu kamu.

Ibu.


Rabbighfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa

Gambar dari sini

Memilih untuk Mencintai

Hidup digerakkan oleh cinta. Segala sesuatu bergerak juga karena cinta. Saat ada cinta, semuanya jadi berbeda. Menjadi lebih hidup. Menjadi lebih bergairah. Bayangkan ibu yang bangun ditengah malam demi mendengar rengekan anaknya. Apa yang membuatnya rela bangun menghentikan tangis dengan gendongan, usapan, atau rayuan? Jawabannya adalah cinta. Cinta itu menggerakkan.

Begitu berharganya ia, sehingga menempatkan cinta tidak boleh sembarang. Berikan cinta kepada yang memang layak memperolehnya. Dan Allah adalah yg paling layak untuk dicinta.

Love gambar dari sini

Ketika ada pertanyaan, mana yg kamu pilih? Menikahi org yg kamu cintai. Atau mencintai org yg kamu nikahi?

Saya memilih yg kedua. Mencintai org yg saya nikahi. Sebagaimana kata mencintai, ia adalah kata kerja. Bukan kata benda. Maka, hadirnya perlu diupayakan, ditumbuhkan, terus-menerus. Cinta kepada ALLAH misalnya, terus dihadirkan dipupuk hingga Allah menjadi satu2 nya yg kita sandarkan. Kita harapkan, kita andalkan, kita percaya.

Saya meyakini bahwa ketika kita hendak menikah, cinta itu sudah harus ada. Salah satunya adalah dengan makin mencintai Allah. Sang Maha penggengam hati. Adalah perkara mudah bagi Allah membolak balikan hati manusia. Dulu sangat cinta, sekarang menjadi sangat benci. Dulu seperti musuh, sekarang jatuh cinta setengah mati.

Yaa muqolibal quluuub

Salim a Fillah dalam bukunya, jalan cinta para pejuang, menyampaikan kata paling romantis menurut saya.

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta.
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu aku memilih yg kedua.
Agar cinta kita menjadi istana
Tinggi menggapai syurga
-Salim a Fillah

Yap, sebab menikah bukan perkara kebahagiaan di dunia saja. Ada agenda besar kita untuk bersama dengan yg dicinta hingga ke syurga.

Oleh karenanya, perkara menikah yg agung ini disertai pula tuntunan doa yg agung.

Wahai Allah, jika ia baik untukku, baik untuk agamaku, baik untuk kehidupanku di dunia dan akibatnya kelak di akhirat, maka taqdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia untukku, dan berkahilah ia untukku.

Namun, jika ia buruk bagi agamaku. Ia buruk bagi kehidupanku di dunia, dan akibatnya kelak di akhirat, maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan tetapkanlah kebaikan untukku, di manapun kebaikan itu berada, sehingga aku ridho dengan segala keputusan dariMu.

See? Dr doanya saja kita bs merasakan betapa Allah menginginkan kbaikan bagi hambanya. Itulah cinta.Karena itu, sdh selayaknya menyandarkan cinta kepada Sang pemilik cinta.

Kelak, jika Allah mentakdirkan iya, artinya akan ada banyak cinta yg akan Allah hadirkan. Jika yg belum halal saja bisa dengan mudah mencintai, apa sulitnya dengan yg sudah halal?

So, mari bangun cinta. Ga perlu mnunggu utk jatuh, nanti sakit. Hehe. Lelah dong far? Ya gak lah.
Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah ”pekerjaan jiwa” yang besar dan agung:
MENCINTAI

Memimpikan Pekerjaan

Semasa kecil dulu, jika ditanya ingin jadi apa, saya selalu bisa menjawab dengan percaya diri: insinyur. Padahal semasa itu, saya pribadi tidak pernah mengenal apa profesi insinyur itu. Yang jelas saya berbangga, saat yang lain menjawab dengan profesi umum semacam dokter, polisi, atau guru. Saya menjadi yang berbeda diantara mereka.

Satu2nya yang saya ketahui tentang insinyur adalah seseorang yang pintar. Entah mengapa sejak kecil, saya selalu senang melihat orang yang tampil pintar. Setiap kali melihat sesosok orang berkacamata, pandai tampil di muka umum, entah untuk presentasi di depan kelas, atau hal semacam itu. Saya bisa sangat mengaguminya.

Waktu bergulir. Hingga pada saat hendak memilih jurusan kuliah saat tahun akhir SMA, terbersit keinginan baru. Menjadi wartawan dan menuliskan berita utk dibaca khalayak ramai. Fisip UI. Namun, keterbatasan kondisi membuat saya memilih jurusan matematika pada universitas yg sama. Saya mencintai matematika (saat itu). Maka pilihan saya tidak salah.

Takdir berkata lain, saya justru bersekolah di sebuah sekolah kedinasan. Akuntansi. Tidak pernah terbersit bahwa jurusan ini membawa saya pada mimpi saya dulu. Melakukan wawancara, meliput berita, menulis, dan mengedit naskah sdh saya rasakan kini. Persis. Sebagaimana dulu saya memimpikannya. Kok bisa? Barangkali istikharah adalah jawabannya.

Akan tetapi ada hal lain yg mulai mengusik mimpi saya kini. Hal ini dimulai pada masa2 kuliah dulu. Pada saat itu, saya berkesempatan untuk mengajar anak2 yang tinggal di sekitar komplek kos2an. Yang kami ajarkan adalah mengaji. Mulai dari pengenalan Alif-ba-ta, hingga Al Quran. Sesungguhnya saya tidak pernah tau sebelumnya bagaimana cara mengajar anak2. Gaduh dan sulit diatur. Itu yang terpikir.

Dan benar saja, setiap kali saya datang ke mushola, anak2 sibuk berlarian kesana sini. Ada yang kejar2an, pukul2 an, dan berbagai jenis kegiatan mengerikan lainnya. Saya sempat takut terjadi hal2 mengerikan saat saya mengajar mereka :(

Terdapat dua kelompok anak yang secara rutin saya kunjungi. Pertama, sekelompok anak laki2 di sekitar komplek kosan. Tempat belajar kami adalah halaman depan salah satu anak. Namun kami lebih sering belajar di lapangan komplek setelah maghrib. Sebab tidak mudah mencari tempat belajar yg memungkinkan. Akibatnya ada-ada saja yg kami alami saat proses belajar. Pernah satu kali, saat menunggu giliran menyetor hafalan, seorang anak memanjat tiang gawang bola. Hingga tiang tersebut jatuh dan menimpa anak tersebut. Subhaanallah. Saat itu saya betul2 khawatir. Jantung dagdigdug tidak karuan. Alhmdulillah sang anak baik2 saja. Hiks. Sempat terpikir apakah dengan saya mengajar lebih banyak manfaat atau mudharatnya :(

Tapi lama-kelamaan anak2 ini, bisa dengan mudah diatur. Mereka mulai bersikap manis. Setiap kali ba'da maghrib, mereka memanggil saya untuk mengaji, "kak farida... Kak farida.." Demi mendengar itu, saya bahagia sekaligus terharu. Tidak tega utk tidak menanggapi panggilan mereka.

Sementara pada kumpulan anak2 lain yang berjarak lebih jauh, kami sudah menggunakan mushola yang memungkinkan utk dipakai belajar. Tiap kali saya datang, sepanjang jalan anak2 sudah meneriaki saya, bergelayut manja, berebut salam atau sekadar dulu2an masuk mushola. Beberapa dr mereka bahkan sudah duduk manis. Terburu mengambil duduk paling depan, agar dpt giliran pertama mengaji. Demi melihat tingkah mereka, maka tiap esok ada kuis, tugas, atau hari hujan, rasa malas berangkat mengajar, dibayang2i oleh kekhawatiran adanya sekelompok anak yang menunggu kedatangan saya.

Sungguh pengalaman ini membuat saya berpikir ulang tentang apa pekerjaan impian saya. Sebuah pekerjaan yang bisa langsung menyentuh target, mengetahui keberartian kita bagi orang lain, adalah sesuatu yang memberikan rasa puas tersendiri. Terlebih, saat kita tau ada ilmu atau mungkin hal2 bermanfaat yang dapat kita bagi kepada orang lain. Ibu saya menjadi salah satu diantaranya.

Beliau adalah seorang guru agama di sekolah dasar yang alhamdulillaah sangat disayangi anak2 muridnya. Saya selalu berdoa untuk setiap ilmu yang Beliau ajarkan semoga menjadi amal jariah baginya. Pada titik ini, saya menyadari bahwa profesi guru bukan sesuatu yang biasa. Ada kepuasan yg Allah berikan saat di dunia. Dan ada balasan besar atas ilmu yang diajarkan, kelak di akhirat nanti. Amal yang terus menerus bertambah, setiap kali murid yang diajarkan mengamalkan dan memanfaatkannya dengan baik. Meski pada saat itu kita tak mampu lagi menambah amalan dr jerih kita sendiri.

Maka mimpi saya saat ini adalah menjadi pengajar, terutama dalam ilmu agama. Namun sayang sy tidak pernah belajar agama di sebuah lembaga pendidikan khusus. Maka sebelum itu, saya sangat ingin bs belajar di sebuah asrama pendidikan agama (pesantren?), hingga ke luar negeri macam Mesir, Saudi Arabia, dan negara2 Islam lain yang kaya akan ilmu syariat.

Dream Job (gambar dari sini)


Berbekal itu, saya bisa beramal melalui ilmu yang saya miliki. Kita boleh saja berharap bukan? Dan baru kali ini saya menuliskan mimpi saya dalam hal pekerjaan berkat tema arisan blog kali ini. Hehe.

Ada banyak mimpi2 lain yg ingin saya penuhi, seperti menerbitkan buku karya saya sendiri, hingga menjadi motivator islami. Yang membuat setiap orang dapat lebih mengenal Allah, lebih mengenal Islam, hingga menumbuh suburkan cintanya kepada Allah. Atau pengajar bahasa Quran seperti Nouman Ali Khan. Saya mengaguminya.

Berbekal dengan cinta, saya yakin apapun yang kita inginkan dalam hidup ini dapat dengan mudah diwujudkan. Dan menulis bisa menjadi penguat tekad. Mensyukuri pekerjaan saat ini, harus! Namun dengan tetap mengukir mimpi, mengapa tidak? Sebab Allah, sebaik2 penolong.

Siapa Bilang Gagal?

Pernah mencoba sesuatu yang baru, kemudian gagal? Saya pernah.
Kisah ini dimulai manakala adik saya terus menerus minta dibuatkan cheese cake. Pasalnya, saya pernah membuatkan dia satu loyang cheese cake no bake dan ternyata dia suka. Horree.. Padahal, itu kali pertama saya membuat kue dengan hanya berbekal nonton di yutub. *bangga

Oleh karena gak punya alat memanggang alias oven, saya mencari resep kue yang memang gak perlu dipanggang. Cukup otak atik bahan, lalu masukan ke dalam kulkas, beres. Siapa yang gak suka perpaduan menarik dari es krim dan kue: dingin-manis. Gak lama cheese cake no bake saya ludes dalam waktu singkat.


Cheese cake. Gambar dari sini

Nah, berbekal pengalaman pertama yang sukses jaya *ehm Maka sebagai seorang kakak yang baik, saya hendak memenuhi hasrat sang adik (lagi). Kali ini kue yang saya buat harus benar2 bertekstur kue pd umumnya: lembut luar dalam. Bukan hasil bentukan freezer. So, saya pun kembali mencari resep cheese cake. Alih-alih mengganti oven dengan alat lain, kali ini saya memanfaatkan magic com yang ada di rumah.

Sebagai informasi, magic com saya ini gak pernah dimanfaatkan selain untuk menanak nasi. Padahal, dia punya kemampuan multifungsi. Jadilah saya memanfaatkannya supaya lebih berfaedah (minjem istilah Mbak Yessi).

Tak hanya menjajal kemampuan magic com, tatkala hendak mencampurkan bahan, saya baru ingat bahwasanya mixer yang ada di rumah sudah dihibahkan ke kakak saya. Sebab, semenjak kepergian Ibu, saya dan saudara saya hampir tidak pernah lagi membuat kue. Sebab pengalaman membuat kue bersama ibu, selalu spesial. Dan tidak pernah lagi bisa seindah itu.

Baik. Selanjutnya mulai lah saya mendahului eksperimen saya dengan mengocok bahan menggunakan blender hihi. Pada step ini saja sudah terlihat benih2 kegagalan. :(

Namun demikian, saya masih yakin hasilnya tidak akan mengecewakan. Sebab magic com saya ini konon di iklan bagus pake banget. Saat hendak memanggang kue lewat magic com, saya baru menyadari bahwasanya buku manual alias buku petunjuknya entah disimpan di mana. Duh. Secara adonannya udah minta buru2 dipanggang. Walhasil, dengan ilmu perasaan ala perempuan saya pun mulai memanggang kue. Bismillaah.

Dari wanginya yaa, maasyaa Allaah. Wangiii banget..  Semua penghuni rumah sejurus kemudian ikut2an menunggu kue pertama hasil memanggang dengan magic com. Dalam hati kami msg2, seandainya eksperimen kali ini berhasil, besok2 kami akan sering2 bikin kue.

Saat itu, terbersit dalam hati saya, Duh.. Repot nih, bakal sering dimintain bikin kue. Hehe *dasar angin2an.

Entah krn Allah mendengarkan kegundahan hati saya yang terdalam. Atau memang takdir berkata demikian seharusnya. Akhirnya saya nekat mengangkat kue yg tak kunjung matang. Berkali2 sudah dipanaskan, buka, panaskan lagi. Yang ada rupa si kue berubah aneh. Bagian atas lembek, tapi bawahnya keras. Meninggalkan kerak yg susah dibersihkan. Wangi kue yg awalnya mengundang selera berubah jd wangi kegagalan akibat bau gosong.hiksss

Akhirnya si kue ini tetep nekat dimakan adik saya yang entah memang doyan ato mengasihani sang kakak yg sedari siang mondar-mandir memeriksa kue yg tak kunjung jadi. Meski pada akhirnya, bagian bawah kue yang tak layak makan saya paksakan makan. Secara yaa, malu ah buang2 makanan.

Namun, apa daya. Saya juga tidak sanggup menghabiskan. Bukan tak sayang pada makanan, tapi saya jauh lebih sayang pada keselamatan perut saya sekeluarga. Akhirnya, sisa2 kue yang masih agak banyak itu berakhir di tempat sampah. Hiks sedih bgt deh.

Meski kegagalan (katanya) adalah kesuksesan yang tertunda. Saya tidak lagi2 mencoba membuat kue di magic com. Meski harapan itu masih tersimpan di lubuk hati. Suatu hari nanti. Ya, suatu hari nanti...*tekad

Yah, boleh jadi ini adalah kegagalan, tapi saya justru menyadari satu hal. Bahwa meski usaha saya dalam membuat kue yang cantik, enak, dan layak makan, gagal. Namun, setidaknya saya tidak menyiakan harapan dan permintaan adik saya untuk membuat kue. Semoga kelak ia belajar, bahwa ada hal yg jauh lebih berharga ketimbang hasil, yaitu mengusahakan yg terbaik untuk orang2 yang kita cintai, meski saat itu kita berada dalam keterbatasan.

Untuk yg satu ini, Allah lebih berhak bukan?


---
Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah: 24)